Sikap Terbaik Saat Difitnah: Antara Sabar, Membela Diri, dan Memaafkan
Pertama: Meyakini Fitnah Sebagai Takdir dan Kebaikan
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)
Dalam Qa’idah fish Shabr, Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
أَنْ يَشْهَدَ أَنَّ اللهَ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – خَالِقُ أَفْعَالِ العِبَادِ حَرَكَاتِهِمْ وَسَكَنَاتِهِمْ وَإِرَادَاتِهِمْ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، فَلاَ يَتَحَرَّكُ فِي العَالَمِ العُلُوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ ذَرَّةً إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَشِيْئَتِهِ وَالعِبَادُ آلَةٌ، فَانْظُرْ إِلَى الَّذِي سَلَّطَهُمْ عَلَيْكَ، وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى فِعْلِهِمْ بِكَ، تَسْتَرِيْحُ مِنَ الهَمِّ وَالغَمِّ وَالحَزَنِ
“Hendaknya ia mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Yang menciptakan segala perbuatan hamba, baik itu gerakan, diam, dan keinginannya. Segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pasti akan terjadi. Segala sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Sehingga, tidak ada satu pun benda meski seberat dzarrah (seukuran kecil) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. Oleh karenanya, hamba adalah ‘alat’. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu (lihat pada takdir Allah) dan janganlah pandang tindakannya terhadapmu. (Apabila Anda melakukan hal itu), maka Anda akan terbebas dari segala kepedihan, duka, dan kesedihan.”
