Tafsir Surah Al-Muthaffifin: Ancaman Keras bagi Orang yang Curang dalam Timbangan
Ayat Pertama – Ketiga
Allah Ta’ala berfirman,
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)
ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (QS. Al-Muthaffifin: 2)
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
“dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 3)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
“Wailun” adalah kata yang menunjukkan azab dan ancaman keras.
“Lil muthoffifin” yaitu bagi orang-orang yang berbuat curang dalam takaran dan timbangan.
“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”
Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang curang itu melalui firman-Nya:
yaitu orang-orang yang apabila mereka mengambil takaran dari orang lain untuk hak yang menjadi milik mereka minta dipenuhi, mereka meminta dan mengambilnya secara penuh tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Sedangkan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, yakni ketika mereka harus memberikan hak orang lain yang menjadi tanggungan mereka melalui takaran atau timbangan, mereka mengurangi hak tersebut. Pengurangan itu bisa dengan menggunakan takaran atau timbangan yang kurang, atau tidak memenuhi takaran dan timbangan sebagaimana mestinya, atau dengan cara lain yang serupa.
Perbuatan seperti ini termasuk mencuri harta orang lain dan tidak berlaku adil terhadap mereka.
Apabila ancaman ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi hak orang lain dalam takaran dan timbangan, maka orang yang merampas harta orang lain dengan paksa atau mencurinya secara terang-terangan, lebih pantas lagi mendapatkan ancaman tersebut daripada sekadar orang yang curang dalam takaran.
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa sebagaimana seseorang berhak mengambil dari orang lain apa yang menjadi haknya, maka ia juga wajib memberikan kepada orang lain seluruh hak mereka, baik dalam harta maupun dalam berbagai bentuk muamalah. Bahkan makna ini mencakup pula dalam perdebatan dan penyampaian pendapat. Sebagaimana lazimnya dua orang yang berdebat masing-masing berusaha mempertahankan dalil yang menguntungkan dirinya, maka ia juga wajib menjelaskan dalil yang menjadi hak lawannya yang mungkin belum diketahui. Ia harus menimbang dan memperhatikan dalil lawannya sebagaimana ia menimbang dalilnya sendiri. Pada titik inilah akan tampak apakah seseorang itu adil atau fanatik dan memaksakan diri, apakah ia rendah hati atau sombong, serta apakah ia berakal atau bodoh. Kita memohon kepada Allah taufik untuk meraih segala kebaikan.
Contoh praktik kecurangan dalam bisnis saat ini
1. Spesifikasi Tidak Sesuai Iklan
Menjual produk dengan klaim kualitas tertentu (misalnya bahan premium, asli, organik), padahal kenyataannya kualitas di bawah standar yang dijanjikan.
2. Manipulasi Berat Bersih (Netto)
Mencantumkan berat bersih 1 kg, tetapi setelah ditimbang ulang ternyata kurang dari itu. Ini termasuk bentuk pengurangan takaran modern.
3. Mengurangi Kualitas Jasa
Dalam bisnis jasa, menerima pembayaran penuh tetapi layanan tidak diberikan sesuai kesepakatan, misalnya jam kerja dikurangi atau hasil kerja tidak sesuai kontrak.
4. Markup Biaya Tanpa Transparansi
Menambahkan biaya tersembunyi saat pembayaran (admin fee, service charge, biaya tambahan yang tidak dijelaskan di awal).
5. Memanfaatkan Ketidaktahuan Konsumen
Menjual barang dengan harga jauh di atas standar pasar kepada orang yang tidak memahami harga sebenarnya.
6. Kecurangan dalam Laporan Keuangan
Mengurangi hak mitra, investor, atau karyawan dengan memanipulasi data laba dan pembagian hasil.
7. Mengurangi Hak Karyawan
Meminta kinerja penuh, tetapi gaji atau hak lembur tidak dibayarkan sesuai kesepakatan.
Ayat Keempat – Keenam
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ
“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 4)
لِيَوْمٍ عَظِيمٍ
“pada suatu hari yang besar.” (QS. Al-Muthaffifin: 5)
يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 6)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan:
Kemudian Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan. Allah juga menunjukkan keheranan terhadap keadaan mereka yang terus-menerus melakukan perbuatan itu. Allah berfirman dengan nada peringatan, “Tidakkah mereka menyangka bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari yang sangat besar, yaitu hari ketika seluruh manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?”
Yang membuat mereka berani berbuat curang adalah karena mereka tidak beriman kepada hari akhir. Seandainya mereka benar-benar beriman dan menyadari bahwa kelak mereka akan berdiri di hadapan Allah, lalu dihisab atas segala sesuatu—baik yang kecil maupun yang besar—tentu mereka akan berhenti dari perbuatan tersebut dan segera bertobat darinya.
Beratnya Hari Kiamat
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai surah Al-Muthaffifin ayat keenam.
Maksudnya, pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan, di suatu tempat yang sangat sulit, sempit, dan penuh kesusahan. Tempat itu terasa sangat berat bagi orang-orang yang berdosa. Mereka diliputi oleh kedahsyatan urusan Allah yang tidak sanggup ditanggung oleh kekuatan dan pancaindra manusia.
Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?
“Hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai setengah telinganya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari melalui jalur Malik dan Abdullah bin ‘Aun, keduanya dari Nafi’. Juga diriwayatkan oleh Muslim melalui dua jalur tersebut. Demikian pula diriwayatkan oleh Shalih, Tsabit bin Kaisan, Ayyub bin Yahya, Abdullah dan Ubaidullah—keduanya putra Umar—serta Muhammad bin Ishaq, semuanya dari Nafi’, dari Ibnu Umar.
Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ishaq mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang firman Allah: (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?
“Karena keagungan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla pada hari Kiamat, hingga keringat benar-benar mengekang manusia sampai setengah telinga mereka.”
Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan: Ibrahim bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, ia berkata: Sulaim bin ‘Amir menceritakan kepadaku, Al-Miqdad—yakni Ibnu Al-Aswad Al-Kindi—berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila hari Kiamat terjadi, matahari didekatkan kepada para hamba hingga jaraknya sekitar satu mil atau dua mil.”
Beliau bersabda, “Maka matahari itu membakar mereka, sehingga mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pinggangnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringatnya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Al-Hakam bin Musa dari Yahya bin Hamzah, dan oleh At-Tirmidzi melalui Suwaid dari Ibnu Al-Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir.
Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan bin Sawwar, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Mu’awiyah bin Shalih, bahwa Abu Abdurrahman menceritakan kepadanya dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Matahari didekatkan pada hari Kiamat sejauh satu mil, dan panasnya ditambah sekian dan sekian. Binatang-binatang kecil pun mendidih karenanya sebagaimana air dalam kuali mendidih. Manusia berkeringat sesuai dengan kadar dosa mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai betis, ada yang sampai pertengahan tubuhnya, dan ada yang benar-benar dikekang oleh keringat.”
Hadis ini diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.
Dalam hadis lain, Imam Ahmad meriwayatkan dari Hasan, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu ‘Asyanah Hayy bin Yu’min, bahwa ia mendengar ‘Uqbah bin ‘Amir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Matahari didekatkan ke bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, ada yang sampai pertengahan betis, ada yang sampai kedua lutut, ada yang sampai pantat, ada yang sampai pinggang, ada yang sampai kedua bahu, ada yang sampai pertengahan mulutnya.”
Beliau memberi isyarat dengan tangannya seakan-akan menutup mulutnya. Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat seperti itu. “Dan ada pula yang keringatnya menutupi seluruh tubuhnya.” Beliau memberi isyarat dengan tangannya. Hadis ini juga diriwayatkan secara tersendiri oleh Imam Ahmad.
Disebutkan pula dalam sebuah hadis bahwa mereka berdiri selama tujuh puluh tahun tanpa berbicara. Ada yang mengatakan mereka berdiri selama tiga ratus tahun. Ada pula yang mengatakan empat puluh ribu tahun. Dan diputuskan perkara di antara mereka dalam kadar sepuluh ribu tahun, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:
“Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: Ayahku menceritakan kepada kami, Abu ‘Aun Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Abdur Salam bin ‘Ajlan berkata: Aku mendengar Abu Yazid Al-Madani dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Basyir Al-Ghifari,
“Bagaimana keadaanmu pada hari ketika manusia berdiri selama tiga ratus tahun untuk Rabb seluruh alam—menurut hitungan hari dunia—tanpa datang kepada mereka kabar dari langit dan tanpa diperintahkan suatu perintah?”
Basyir berkata, “Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”
Beliau bersabda,
فَإِذَا أَوَيْتَ إِلَىٰ فِرَاشِكَ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ كَرْبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسُوءِ الْحِسَابِ.
“Jika engkau berbaring di tempat tidurmu, maka berlindunglah kepada Allah dari kesusahan hari Kiamat dan dari buruknya hisab.”
Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui jalur Abdur Salam.
Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berlindung kepada Allah dari sempitnya tempat berdiri pada hari Kiamat.
Dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa mereka berdiri selama empat puluh tahun dengan kepala terangkat ke langit, tidak seorang pun berbicara kepada mereka, dan keringat telah mengekang orang baik maupun orang jahat.
Dari Ibnu Umar disebutkan bahwa mereka berdiri selama seratus tahun. Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Dalam Sunan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah, melalui hadis Zaid bin Al-Hubab dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Azhar bin Sa’id Al-Hawari, dari ‘Ashim bin Humaid, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka qiyamullail dengan bertakbir sepuluh kali, memuji sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Beliau juga berdoa,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
ALLĀHUMMAGHFIR LĪ, WAHDINĪ, WARZUQNĪ, WA ‘ĀFINĪ, WA A‘ŪDZU BIKA MIN ḌHĪQIL-MAQĀMI YAUMAL-QIYĀMAH.
“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, dan sehatkanlah aku.”
Doa yang Patut Dihafalkan agar Selamat dari Sempitnya Dunia dan Hari Kiamat
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan tentang qiyamullail Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan doa pembuka shalat beliau (doa iftitah) dengan doa dan zikir tersebut. Ia berkata:
“Beliau bertakbir sepuluh kali, bertasbih sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali.”
Kemudian ia menyebutkan doa tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا، وَضِيقِ الْقِيَامَةِ
ALLĀHUMMA INNII A‘ŪDZU BIKA MIN DHIIQID-DUNYĀ, WA DHIIQIL-QIYĀMAH.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan pada hari Kiamat.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dauud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab “Doa yang Dibaca Ketika Pagi Hari”, no. 5087; An-Nasa’i dalam Al-Kubra, Kitab Shalat ‘Idain, Bab Khutbah Hari Raya, no. 10623; juga dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah karya Ibnu As-Sunni, no. 759. Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1356).
Ayat Ketujuh – Kedua Belas
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّآ إِنَّ كِتَٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍ
“Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin.” (QS. Al-Muthaffifin: 7)
وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌ
“Tahukah kamu apakah sijjin itu?” (QS. Al-Muthaffifin: 8)
كِتَٰبٌ مَّرْقُومٌ
“(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. Al-Muthaffifin: 9)
وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ
“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (QS. Al-Muthaffifin: 10)
ٱلَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ ٱلدِّينِ
“(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Muthaffifin: 11)
وَمَا يُكَذِّبُ بِهِۦٓ إِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa.” (QS. Al-Muthaffifin: 12)
Syaikh As-Sa’di menjelaskan:
Maksudnya, kitab yang di dalamnya tertulis seluruh amal buruk mereka. Sijjīn adalah tempat yang sempit lagi menghimpit. Sijjīn merupakan kebalikan dari ‘Illiyyīn, yaitu tempat catatan amal orang-orang yang berbakti, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Sijjīn adalah lapisan bumi yang paling bawah, tempat tinggal orang-orang durhaka dan tempat menetap mereka kelak di akhirat.
(Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan.
Kemudian Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan para pendusta itu adalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan, yaitu hari ketika Allah membalas manusia atas seluruh amal perbuatan mereka.
“Dan tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi banyak berbuat dosa.”
Yakni orang yang melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, berpindah dari yang halal kepada yang haram. Ia adalah orang yang banyak berbuat dosa. Sikap melampaui batas itulah yang mendorongnya untuk mendustakan, dan kesombongannya membuatnya menolak kebenaran.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat kedua belas:
Maksudnya, ia adalah orang yang melampaui batas dalam perbuatannya: berani melakukan yang haram dan berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya mubah.
Ia juga seorang yang banyak berdosa dalam ucapannya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika berjanji, ia mengingkari. Dan jika berselisih atau bertengkar, ia berlaku curang dan melampaui batas.
Ayat Ketiga Belas – Keempat Belas
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلْأَوَّلِينَ
“yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu.” (QS. Al-Muthaffifin: 13)
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Syaikh As-Sa’di menjelaskan:
Karena itulah, ketika ﴿إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا﴾ — yakni ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenaran dan membuktikan kejujuran ajaran yang dibawa para rasul — dibacakan kepadanya, ia justru mendustakannya dan bersikap keras kepala.
Ia berkata, ﴿هَٰذِهِ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾, yakni ini hanyalah dongeng dan omong kosong orang-orang terdahulu, sekadar cerita umat-umat masa lampau. Ia menganggapnya bukan berasal dari Allah, semua itu diucapkannya karena kesombongan dan sikap membangkang terhadap kebenaran.
Adapun orang yang bersikap adil dan jujur dalam menilai, serta tujuannya benar-benar mencari kebenaran yang nyata, maka ia tidak akan mendustakan Hari Pembalasan. Sebab Allah telah menegakkan baginya dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang terang, yang menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang pasti tanpa keraguan.
Kebenaran itu bagi hati mereka laksana matahari bagi penglihatan: begitu jelas dan tak terbantahkan.
Berbeda dengan orang yang hatinya telah tertutup oleh dosa-dosa yang ia lakukan, dan kemaksiatan telah menyelimutinya, sehingga kebenaran pun tidak lagi tampak jelas baginya.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya, apabila orang tersebut mendengar firman Allah yang disampaikan oleh Rasul, ia justru mendustakannya. Ia berprasangka buruk terhadap Al-Qur’an dan meyakini bahwa kitab itu hanyalah karangan yang dibuat-buat, yang dikumpulkan dari kisah-kisah dan catatan orang-orang zaman dahulu.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ﴾
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dongeng orang-orang terdahulu.’” (QS. An-Nahl: 24)
Dan firman-Nya:
﴿وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾
“Dan mereka berkata, ‘(Al-Qur’an itu hanyalah) dongeng orang-orang terdahulu yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya setiap pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)
Demikianlah sikap orang-orang kafir: ketika kebenaran dibacakan kepada mereka, mereka menolaknya dan menuduhnya sebagai cerita rekaan dari masa lampau.
Firman Allah Ta’ala:
﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Maksudnya, tidaklah benar seperti yang mereka sangkakan dan ucapkan, bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Bahkan Al-Qur’an adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya ﷺ.
Akan tetapi, yang menghalangi hati mereka untuk beriman kepadanya adalah ran (karat/penutup) yang menyelimuti hati mereka akibat banyaknya dosa dan kesalahan yang mereka lakukan. Karena itulah Allah berfirman:
﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
Adapun ran itu menimpa hati orang-orang kafir. Sedangkan bagi orang-orang saleh (al-abrar) ada ghaim (awan tipis), dan bagi orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin) ada ghain (selubung yang lebih ringan lagi).
Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur, dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari Al-Qa‘qa‘ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ مِنْهَا صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat darinya, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu pun bertambah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’”
Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”
Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan:
«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَهُوَ الرَّانُ الَّذِي قَالَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, akan ditorehkan satu titik pada hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia kembali (berbuat dosa), maka titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang disebutkan Allah dalam firman-Nya.”
Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz:
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، فَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»
Artinya: “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun jika ia menambah (dosa), maka titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ran yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an.”
Hasan al-Basri berkata, “Ia adalah dosa di atas dosa, hingga hati menjadi buta lalu mati.”
Demikian pula dikatakan oleh Mujahid bin Jabr, Qatadah ibn Di’ama, Ibnu Zaid, dan selain mereka.
Masih bersambung Insya-Allah ….
Referensi:
- Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. KSU Electronic
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Ibnu Katsir. KSU Electronic
